Sunday, 5 October 2014

Aku Butuh Kau, Bapa

Rasanya ingin tersenyum, tulus dan apa adanya. Walau tak dapat kupungkiri kesesakan memenuhi setiap rongga didalam dada. Aku tak ingin menangis, meskipun kadang air mata menetes tanpa basa-basi. Aku tak ingin mengeluh, hingga tiba saatnya nafasku terasa sesak dan tak dapat kuhirup kembali setiap partikel oksigen yang terbang bebas disekitarku.

Bapa, apa boleh aku berkata bahwa aku lelah. Ingin rasanya kuhirup dalam-dalam udara yang membebaskanku dari kesesakan ini. Sesak ini terlalu berkuasa atas hatiku. Hingga aku tak pernah sasar, bahwa air mata itu tak layak untuk menetes.

Bapa, peluk aku. Karna kurasakan langkah kakiku mulai melemah. Aku seakan tak dapat berjalan. Jangan berjalan, berdiri tegak pun rasanya aku tak bisa.

Bapa, jangan pernah pergi dariku. Karna aku butuh topangan tangan-Mu. Ketika aku jatuh, Kau ulurkan tangan-Mu untuk membantuku bangkit kembali. Dan ketika aku tak sanggup bangkit, Kau membungkukkan tubuh-Mu dan kemudian menggendongku.

Bapa, ajarkan aku untuk dapat menjadi wanita yang tangguh. Layaknya batu karang yang tak mudah goyah saat terhempas ombak.

Bapa, kurindukan jamahan Kasih-Mu dalam kesesakkanku.

Aku tahu ini adalah proses. Dan aku tak akan meminta untuk Kau percepat waktu yang ada.

Aku hanya memohon, dampingi aku. Pegang erat tanganku, dan jangan pernah Engkau lepaskan. Hanya itu Bapa..

Thursday, 2 October 2014

Isyarat Hati

Desir angin dimalam ini, terasa dingin bagaikan sebuah isryarat hati. Terasa sepi, dan menusuk dalam kesendirian. Mencabik dinding hati yang terbalut satu harapan. Inikah kisahku, nampak kelam bak malam tak berbintang.

Maaf jika aku terlalu menyayangimu. Ketidaksempurnaanku kini berjuang untuk menyempurnakan cinta. Maafkan kelemahanku, yang tak dapat menahan tetesan air mata kerinduan.

Ketika kuingat bahagia, terlahir sebuah harapan baru. Tentang cerita yang kita tulis untuk sebuah masa depan yang indah. Satu cerita, tentang aku dan kamu. Tentang kita dan sang buah hati. Tentang hari-hari yang akan dilalui dengan senyuman disetiap detiknya.

Aku begitu yakin padamu. Bahwa hati yang kutitipkan dapat terjaga lebih aman.

Aku ingin hidup lebih lama. Bersamamu, merangkai waktu menjadi hari yang mengesankan. Merajutnya menjadi satu kenangan yang membahagiakan.

Hingga kelak, ketika aku menutup mata, hanya akan ada kebahagiaan yang terkenang. Tersimpan rapi disudut hati. Tak terusik, dan tak terganti. Sekarang dan selamanya...

Wednesday, 1 October 2014

Dan Aku, Memilih Untuk Percaya

Saat sesuatu tak berjalan seperti biasanya. Saat banyak hal mulai berubah dari apa yang semestinya. Bisakan pemikiran positive masih berada dibenakmu? Bisakan kamu menganggapnya menjadi satu hal yang wajar-wajar saja? Sulit, tapi aku belajar..

Aku belajar untuk bersabar, karna aku tahu dalam kesabaranku Tuhan bekerja. Aku belajar berharap, sebab didalam pengharapan yang ditujukan kepada-Nya ada damai sejahtera. Dan aku terus belajar untuk selalu berserah diri, karna aku tahu bahwa amarah dan berprasangka buruk itu sama sekali tak membantuku untuk mendapatkan sebuah jawaban yang benar.


Ajari aku untuk terus bersabar. Ajari aku untuk terus berfikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ajari aku untuk tetap setia pada apa yang saat ini sudah Tuhan percayakan kepadaku. Ajari aku, tentang hidup juga sebuah proses yang sedang Tuhan kerjakan.

Aku tak mau berfikir buruk tentang waktu. Aku tak ingin mencurigai jarak yang tercipta saat ini. Aku ingin belajar percaya sepenuhnya, tanpa harus bertanya apa dan mengapa.

Jangan paksa aku untuk menghadirkan curiga dalam setiap detik yang berlalu. Jangan desak aku untuk memiliki rasa cemburu yang tak jelas dari mana asalnya. Jangan izinkan aku untuk merubah pikiran yang saat ini telah kubangun susah payah.

Aku hanya ingin berfikir bahwa ini adalah sebuah proses. Satu proses dimana Tuhan sedang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi hidupku, juga hidupmu. Satu perkerjaan Tuhan yang sedang Ia selesaikan.

Apapun itu. Bagaimanapun itu. Dan tentang semua sikap serta perubahan yang ada. Aku tak ingin sedikitpun mengurangi rasa sayangku. Aku tak ingin mempertaruhkan apa yang kumiliki saat ini hanya karna amarah yang sia-sia. Aku akan tetap memilih untuk percaya.

Percaya pada apa yang aku lihat. Percaya pada apa yang aku dengar. Terlebih percaya pada apa yang aku rasakan. Karna aku tahu, aku sudah lebih dulu memilih untuk memberikan kepercayaan sepenuhnya kepadamu. Kepada orang yang kurasa tepat untuk kutitipkan hati dan mungkin hidupku.

Dan aku memilih untuk tetap berfikir, bahwa semua akan tetap baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala. Dengan cinta yang lebih, Kasih sayang yang lebih, juga kebahagiaan yang lebih dari sebelumnya..