Wednesday, 10 December 2014

Tentang Jingga

Ketika aktivitas mulai menyita semua waktu dan pikiran yang kumiliki, ada sesuatu yang tersisa disana. Satu ruang kecil yang berisikan sebuah cerita. Tentang Hati. Tentang Penantian. Tentang Rindu. Juga tentang sebuah Harapan. Dimana mereka hanya dapat terdiam, menunggu hingga saatnya tiba yang entah kapan terjadi.

Teringat satu nama yang kusebut dalam sebuah cerita yang kuutarakan kepada Tuhanku. Ia bukanlah sosok laki-laki yang sempurna. Ia manusia yang juga dapat melakukan kesalahan. Nama itu adalah nama yang selalu kutulis dalam lembaran jingga ditiap senjaku. Ia yang juga mengajariku banyak hal tentang hidup dan ketulusan. Sekali lagi, ia bukanlah malaikat. Ia hanya manusia biasa.

Puluhan senja kulalui dengan memandang lembaran jingga yang kulukis dalam satu ingatan. Cerita tentang masa depan, tentang kisah yang belum sempat dimulai, atau hanya sekedar kisah tentang indahnya menghabiskan senja dengan ditemani dua cangkir kopi dan pembicaraan ringan yang kemudian dapat membuat kita saling tertawa.

Bahagia memanglah sederhana. Sesederhana setiap kata yang hadir untuk bisa membuatmu tersenyum. Sangat sederhana, sehingga seringkali kita lupa untuk mensyukurinya.

Jika bahagia itu sederhana, begitupun dengan kecewa. Kekecewaan terkadang datang dari satu hal sederhana. Yang tersimpan. Yang tak diungkapkan. Juga yang tak pernah memiliki awal untuk mengakhiri.

Namun sayangnya, WAKTU bukanlah satu hal sederhana yang dapat dipermainkan begitu saja. Ia berharga. Karna ia, kenangan ada. Karna ia, bahagia tercipta. Dan karna ia, kecewa dapat dirasakan.

Hargailah waktu yang kini ada untukmu. Karna seseorang dapat saja pergi kapanpun ia mau. Dan Hati adalah ruang sakral yang tak dapat disinggahi begitu saja oleh banyak orang. Jadi mengertilah..

Tentang Cinta ini. Tentang Kisah ini. Tentang Kesabaran dan sebuah Penantian akan satu Harapan yang entah kapan akan terwujud. Biarlah hanya Tuhanku yang tahu. Apa saja yang telah kubicarakan dengan-Nya. Siapa saja yang kusebut namanya dalam setiap doaku. Dan kapan waktu yang kuharapkan hadir untuk membayar lunas semua ini dengan Kebahagiaan.

Yang aku tahu, Tuhanku akan selalu memberikan yang terbaik bagiku. Walau Ia harus mengambil sedikit bagian dari Kebahagiaanku saat ini, aku yakin Ia sanggup membayar Lunas semua itu dengan Kebahagiaan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

Silahkan pergi, namun jangan pernah berharap untuk dicari. Karna Waktu telah menetapkan satu langkah dalam hidupmu. Baik dan buruknya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan. Dan akan menjadi sempurna jika dapat kita syukuri dengan hati yang tulus.


Sunday, 16 November 2014

Desire

Aku wanita yang memiliki banyak impian. Imajiku bekerja lebih cepat jika berbicara tentang impian. Kadang aku berfikir, mungkin indah jika apa yang kita inginkan, apa yang kita bayangkan dapat berlajan seiringan dengan kenyataan yang ada. Tapi aku sadar, aku tak bisa memaksakan apa yang aku inginkan.

Contohnya seorang pasangan yang menurutku indah. Aku tak menginginkan pasangan yang sempurna. Karna jika dia sempurna, lantas apa gunanya aku berada disisinya? Tak lebih dari hanya sebagai penghias, dan bukan pelengkap.

Jika Tuhan berbaik hati mengabulkan keinginanku, aku ingin memiliki seseorang yang dapat membimbingku. Menjadikan aku lebih dekat kepada-Nya. Membuatku lebih bersyukur karna telah dijodohkan dengannya. Dan memberikan aku sebuah kebahagiaan demi kebahagiaan yang mungkin tercipta dimasa-masa sulit yang sedang dihadapi.

Aku tak menginginkan hidup lurus tanpa masalah. Aku hanya memohon, tetap dampingi aku hingga aku berhasil melewati setiap masalahku dan tampil sebagai pemenang.

Bukankah lebih indah, ketika kita menghadapi sebuah ujian hidup, ada seseorang yang berkata "Kita selesaikan sama-sama ya". Bagiku itu adalah satu kalimat sempurna yang dapat memberikan sebuah rasa yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Aku tahu, Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan. Tapi tak ada yang salah ketika kita mengungkapkan apa yang menjadi keinginan kita kepada-Nya. Jadikan Tuhan sebagai sahabat yang selalu diajak bicara, yang dapat menjadi tempat bercerita, juga sebagai ayah yang dijadikan tempat mengadu dan meminta.

Ketika aku terjatuh, aku tahu aku tidak sendiri. Ada banyak cara Tuhan untuk menunjukkan kepadaku bahwa Ia ada. Ia peduli.

Tuhan, aku tahu ada proses yang harus aku lalui untuk menjadi seorang pemenang. Jika Kau memperbolehkan aku untuk memohon dan mengabulkan keinginanku, aku ingin melewatkan semua proses hidupku dengan dia yang Kau pilihkan untukku.

Lebih cepat dipertemukan, agar dapat lebih lama menghabiskan waktu bersamanya. Hanya itu.. :)

Tuesday, 11 November 2014

The Power Of Love (Part 3)

Hari ini aku belajar untuk tidak menangis. Untuk dapat kuat dan menatap takdirku didepan. Sesaat aku berhasil. Tersenyum bersama mereka yang sangat menyayangiku.

Sepertinya aku bahagia. Mereka mengucapkan itu berulang didepanku. Dan aku hanya dapat tersenyum. Terlihat seolah mengiyakan apa yang mereka pikirkan.

Ya, aku memang tersenyum. Aku memang terlihat bahagia. Tapi tidak hatiku. Ada air mata yang tertahan disana. Disetiap waktu atas kenangan yang melintas dalam benakku.

Aku berjuang menahan sedihku. Sekuat tenaga tak kubiarkan air mata menetes disana. Dihadapan mereka yang rindu akan kebahagiaanku.

Salahkah aku jika aku menipu hatiku. Bukan untukku, tapi demi mereka. Aku ingin mereka bahagia. Tak kuasa jika aku harus melihat air mata membasahi wajah mereka. Aku terlalu naif untuk dapat berkata "Aku baik-baik saja".

Dan kini aku sendiri. Disudut jendela yang terbuka. Memandang langit biru. Memutar kembali kenangan yang pernah ada. Aku masih disini, aku tetap disini. Bersama hembusan angin yang pernah mendengar janji kita. Bersama langit biru yang menjadi saksi kesetiaan kita. Aku tetap disini, dengan air mata yang masih tertahan.

Mungkinkah bahagia yang kau rasakan disana? Ataukah tawa canda yang mengisi setiap waktumu?

Bukan aku tak dapat melupakanmu. Bukan aku tak sanggup hidup tanpamu. Aku bisa saja dengan mudah beralih pada hati yang lain. Hati yang akan selalu menjauhkanku dari air mata. Hati yang mungkin takan memberiku luka sedalam ini.

Tapi aku tak mau. Aku tak kuasa menghancurkan harapanku begitu saja. Ia ada, ia hidup didalam hatiku. Setiap waktu didalam doaku, ia berkata ini proses. Haruskah dengan mudah kuhancurkan keyakinannya. Atau menguburnya lebih dalam dari luka yang saat ini ada?

Entahlah, yang aku tahu ia masih berkuasa. Ia masih memegang kendali hidupku. Ia adalah Harapanku. Harapan yang sempat kau sia-siakan. Dan mungkin akan sangat dirindukan ketika penyesalan mulai menyapamu dengan manja.