Tuesday, 10 March 2015

Cinta Sejati

Senandung cinta yang t'lah kau beri
Tak mungkin bisa terhapus waktu
Jadi lukisan dihidupku,
Indah dalam kenangan bersamamu

Jika memang kau bukan untukku
Kurelakan kau bersanding dengannya
Walau air mata jadi saksi
Luka hati melepasmu

Cintaku tak berakhir dalam tangisan
Ia hidup dalam lantunan doa
Yang terbaik demi bahagiamu
Kupanjatkan pada Ilahi

Kumohon Tuhan kabulkan inginku
Bahagiakanmu disisa waktuku
Jangan kulihat air mata
Cukup bahagia yang kau rasa

Bila saja waktuku t'lah habis
Izinkan aku mengucap cinta terakhir
Biarkan rasa mati terkubur bersama
Dalam doa dan lantunan kebahagiaan

Thursday, 5 February 2015

Senja, Kutitipkan Salam Untuknya

Hai senja, apa kabarmu? Tahukah kamu, rasa sesak yang kini sedang bersarang didalam hatiku? Rasanya seperti tertimpa beban berat yang tak dapat kugeserkan sedikitpun.

Dia, datang dengan tiba-tiba. Menyapa lalu berbincang. Terbuka dan mulai bercerita. Ada duka disana, disetiap jeda kalimat yang tak ia tuntaskan. Ada keputusasaan, pada akhir kata yang ia ucapkan dengan perlahan. Aku mendengarnya, aku memperhatikannya. Hingga aku lupa, bahwa ternyata aku mulai mengasihinya.

Ada rasa khawatir didalam hatiku saat ia tak bersamaku. Ada rasa takut menyelimuti hatiku ketika ia tidak disisiku. Dan juga ada rasa kecewa, dikala ia memulai kata dalam kalimatnya yang membuatku merasa ada jarak yang sedang ia ciptakan diantara kami.

Senja, aku tak menuntut apapun darinya. Aku tak ingin mengambil apapun yang ia miliki. Cukup menjadi seseorang yang ia anggap ada dalam kehidupannya saja itu sudah cukup bagiku.

Apakah aku salah, jika aku mengkhawatirkannya? Atau apa aku keliru, jika aku mengasihinya? Entahlah, yang pasti aku tak menyukainya saat ia mulai melontarkan kalimat demi kalimat yang ia bangun untuk menciptakan jarak dan ruang diantara kami. Aku tak suka itu.

Senja, jika nanti ia memandangmu, tolong sampaikan padanya bahwa aku mengasihinya. Ceritakan juga tentang waktu yang ku habiskan bersamamu. Beritahu ia juga ketika namanya menjadi topik dalam satu perbincangan yang mengasikan denganmu.

Senja, kutitipkan salam hangat untuknya. Bisikkan pada telinganya, bahwa ada aku yang mengasihinya. Menginginkan kebaikan baginya dan berdoa demi kebahagiaannya.

Jika nanti Tuhan berkehendak lain, aku janji tak akan menyalahkannya. Aku janji, akan menjadikannya sosok yang terindah. Dalam hatiku, dalam pikiranku, dan juga dalam perjalanan hidupku. Sekarang, dan mungkin selamanya 😊

Monday, 2 February 2015

Senjaku

Hai senja, apa kabarmu? Lama kita tak bersama. Menikmati goresan indah pada lembaran angkasa. Dan bermain dengan warna-warna cantik yang kau miliki.

Banyak waktu yang kulalui tanpamu, dan banyak cerita yang terlewatkan untuk kusampaikan padamu. Senja, tahukah kamu bahwa mereka sibuk datang dan pergi. Hadir, memberi kenyamanan lalu pergi tanpa permisi. Rasanya ingin berontak, tapi hati bertanya "Untuk apa?"

Kadang, aku rindu akan kebersamaan kita. Dikala kau menyapa sementara aku terlalu sibuk dengan kata yang terurai diantara layar hp ku. Dan kemudian kau menggoda dengan warna demi warna yang kau sajikan dihadapanku. Hingga akhirnya aku menyerah dan mengesampingkan rangkaian kata demi menikmati keindahanmu.

Senja, tahukah kau tentang dia yang kini sedang singgah? Dia yang tak kukenal sebelumnya. Dia yang dengan cepat sanggup menyelinap masuk diantara rasa yang selama ini kujaga dengan baik. Membuatku tertegun atas rasa yang entah apa namanya.

Ia hebat, karena sanggup merobohkan pertahananku. Egoku dihancurkannya dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan pintu yang dulu tertutup rapat, kini mulai memberikan celah untuknya.

Tapi aku tak ingin memaksanya masuk. Aku tak ingin ia datang dengan terpaksa. Aku hanya akan menunggu, hingga nanti dia sendirilah yang akan memutuskannya.

Senja.. Terimakasih untuk keindahanmu. Untuk banyaknya ceritaku yang kau tampung diantara warna indahmu. Aku yakin, mencintaimu dan mengasihinya bukanlah sesuatu yang sia-sia. Setidaknya untukku, untuk kita yang selalu menghabiskan senja bersama.