Thursday, 15 August 2013

InI Tentang KASIH

Banyak orang berbicara tentang KASIH, tapi sedikit diantaranya yang mengerti apa itu KASIH.

Sejauh mana kamu tau tentang KASIH? Sejauh mana kamu mengerti bahwa itu KASIH? Sejauh sebuah pemberian pada seseorang yang kelaparan? atau sejauh pertolongan pada seseorang yang kesusuahan? TIDAK! Tidak sampai disitu..

Lantas, sejauh mana kamu mengerti sebuah Kekuatan karna KASIH? Jika kamu sendiri tak pernah tau apa arti KASIH itu sendiri?

KASIH ialah memberi. Memberi bukan karna situasi ataupun keadaan yang menyuruhnya. Melainkan ketika Hatimu merasa kamu harus menolongnya. Ketika Hatimu menyuruhmu untuk membantunya. Disitulah KASIH yang benar ada. Bukan disaat banyak mata melihat hasil pemberianmu. Bukan juga karna banyak pujian yang kau kantongi maka KASIH itu ada. Itu SALAH! KASIH tak pernah mengajarkan kita untuk memberitahu banyak mata tentang apa yang kita lakukan. KASIH tidak pernah mengajarkan kita untuk menantikan banyak pujian atas apa yang dilakukan. Sekali lagi saya bilang itu SALAH!

Di Jaman ini, seberapa banyak tangan kanan yang memberi tanpa diketahui tangan kirinya? Sejaun mana tangan memberi tanpa mulut mengabarkannya? Bukankah kebanyakan sekarang semua sudah terbalik? Ketika tangan kananmu memberi, maka tangan kirimu yang menarik banyak orang untu melihatnya. Disaat tangan kirimu memberi, bukankah mulutmu yang mengabarkannya kepada banyak telinga? Dimana KASIH yang Sempurna itu hadir dari dalam Hatimu?

Apakah kamu tau, seberapa Hebat kekuatan yang KASIH miliki? KASIH sanggup mencairkan Murka Tuhan sekalipun.

Bukankah kita dilahirkan untuk saling mengasihi? Bukankah kita hadir untuk dapat saling membantu? Lantas apa yang harus kamu tunggu dari bantuan yang kamu berikan? Bukankah itu sudah menjadi kewajibanmu?

Ingatkah kita, tentang KASIH yang sudah diberikan-Nya untuk kita?
Pemeliharaan kehidupan, Perlindungan, Kesehatan, dan semua yang terbaik yang telah Ia berikan cuma-cuma hanya karna Ia MENGASIHI umat-Nya. Lantas, mengapa kita harus berjalan tanpa KASIH didalam hati kita?

KASIH tidak hanya berhenti pada rasa kasihan. KASIH tidak hanya terucap dari kata motivasi. Tapi dari setiap tindakan kita yang NYATA, yang berasal tulus dari Hati.

Sudahkah kita dapat saling MENGASIHI? Memberi tanpa harus menunggu Upah atas Pemberian? Jangan tunggu hingga waktumu habis, tapi habiskanlah waktumu untuk dapat saling MENGASIHI.

Monday, 29 July 2013

Hidup InI Milikmu, Kawan

CINTA.. Bukankah itu adalah rasa terindah yang dimiliki setiap insan? Ia hadir tanpa kita duga, dan selalu menyisakan air mata diakhir Kepergiannya. Ia datang menyapa sebagai sosok istimewa yang selalu berhasil menerobos dinding terkuat sekalipun. Ia sanggup mengubah apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa?

Lantas, mengapa kini banyak diantara kita yang menyalahkannya. Menyalahkan dia yang datang menyuguhkan Kebahagiaan, namun ketika pergi mendapat caci maki Kekecewaan dari kita. Seperti itu kah cara kita berterimakasih atas Bahagia yang sempat ia berikan untuk kita rasakan?


Dulu, awalnya akupun begitu. Selalu menyalahkan keadaan juga tak lupa menyalahkan Cinta. "Kalau saja", "Andai saja" itu adalah kata - kata pembelaan yang sering kugunakan dulu. Tapi itu DULU! Sekarang, aku mencoba untuk lebih bersyukur. Atas rasa sakit? Bukan! Melainkan atas waktu dan Kebahagiaan yang pernah diberikannya. Atas setiap senyuman yang hadir karenanya. Bukankah itu sesuatu yang lebih indah untuk kita syukuri. dibandingkan semua kata - kata ungkapan Kekecewaan, kata - kata Makian, atau kata - kata sejenis itulah.


Kadang, aku sering menertawakan diriku sendiri jika mengingat semua sikap yang pernah dilakukan dulu. Tak jarang kata demi kata Kekecewaan tertumpah dalam banyak kalimat yang seharusnya tak terucap. Bukankah ini Hidup? Dimana yang Kuat akan terus Berjalan, dan yang Lemah akan tertinggal cukup jauh dari mereka. Jangan pernah mau diperbudak oleh rasa sakit. Jangan mau menjadi hamba atas sebuah rasa Kecewa! Ingat, hanya diri kita yang memiliki kuasa untuk memberikan IZIN atas rasa sakit atau bahagia yang akan ada didalam kehidupan ini. Jangan biarkan Bahagiamu direngut cuma - cuma oleh Kekecewaan.


Syukuri apapun yang kamu alami. Lihatlah dari arah berlawanan, dimana yang terbaik akan selalu mampu mengajarkan kita tentang Kebahagiaan yang tersembunyi dalam sebuah Ucapan Syukur.



Pic By: Rendy Kurniawan

Sunday, 28 July 2013

Bahagia, Tinggallah Disana

Mungkin, aku pernah kau sakiti. Tak jarang, aku pun menangis karenamu. Tapi, aku pernah tersenyum karna tingkahmu. Aku pun pernah tertawa dalam pelukmu. Dan aku, pernah Bahagia bersamamu. Semua waktu yang pernah dilewati, semua kisah yang pernah terukir, semua itu akan tetap menjadi Kenangan terindahku.

Bukankah Kisah itu nyata. Bukankah setiap waktu yang terlewati itu ada. Bukankah semua itu pernah kita lalui bersama. Dimana letak kesalahannya. Dimana letak permasalahannya.

Mengapa sebuah Kesalahan selalu berhasil memisahkan Kebersamaan. Mengapa setetes air mata selalu sukses menghapus seribu senyuman. Dan mengapa, segores luka hati selalu sanggup menghancurleburkan Kebahagiaan yang pernah ada.

Bukankah ini Hati. Dimana semua perasaan bernaung disana. Dimana Logika terkuat pun akan menjadi lemah dihadapannya.

Lantas mengapa kita masih saling bersikeras atas ego. Saling menjunjung amarah yang tak pernah ada habisnya. Tak ingatkah kita pada sebuah nama yang tak pernah memberikan maafnya. Pada sebuah nama yang selalu hadir disaat kita tak mampu lagi berbuat apa - apa. Pada sebuah nama yang selalu mampu menghadirkan air mata yang tak berhujung. Nama yang sama sekali tak pernah kita sukai, Penyesalan.

Jika nama itu mulai hadir, apa yang bisa kita perbuat? Jika ia benar - benar ada, apa yang bisa kita ucapkan? Bukankah semua akan menjadi sebuah Kehancuran pada sebuah wadah bernama hati.

Hentikan Egomu, dan aku pun akan menghentikan Egoku. Sirnakan Amarahmu, dan aku akan menghilangkan Amarahku. Izinikan Bahagia itu menyapa kembali pintu yang sempat tertutup baginya. Izinkan ia kembali masuk dalam rumah Hati yang pernah kita diami. Izinkan ia tetap tinggal disana, hingga aku dan kamu benar - benar merasa cukup untuk melepas satu dan yang lainnya dalam sebuah suratan Takdir.